1. Konsep Psikoanalisis dan Behavioral
a. Konsep Psikoanalisis
Psikoanalisis merupakan suatu metode penyembuhan yang lebih bersifat psikologis dengan cara-cara fisik. Tokoh utama dan pendiri psikoanalisis ialah Sigmund Freud, sebagai orang pertama yang mengemukakan konsep ketidaksadaran dalam kepribadian. Konsep-konsep psikoanalisis banyak memberikan pengaruh terhadap perkembangan konseling. Tujuan konseling psikoanalisis adalah untuk membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar pada diri klien. Proses konseling dipusatkan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau ditata, didiskusikan, dianalisis, dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekonstruksi kepribadian. Konseling analitik menekankan dimensi efektif dalam membuat pemahaman ketidaksadaran. Tilikan dan pemahaman intelektual sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah mengasosiasikan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri.
b. Konsep Behavioral
Menurut Krumboltz dan Thoresen, konseling behavioral merupakan suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu. Penekanan istilah belajar dalam pengertian ini adalah atas pertimbangan bahwa konselor membantu orang (klien) belajar atau mengubah perilaku. Konselor berperan membantu dalam proses belajar dengan menciptakan kondisi yang sedemikian rupa sehingga klien dapat mengubah perilakunya serta memecahkan masalahnya.
2. Konsep perilaku manusia (Menurut Teori Psikoanalisis dan Behavioral)
a. Menurut Teori Psikoanalisis
Menurut Teori Psikoanalisis struktur kejiwaan manusia dapat di bilang sangat unik yaitu terdin atas Id. Ego dan Super Ego Stuktur kejiwaan pada manusia tersebut oleh freud selanjutnya disebut kepribadian Teon Psikoanalisis bermula dari keraguan Freud terhadap kedokteran Pada saat itu kedokteran dipercaya bisa menyembuhkan semua penyakit, termasuk histeria yang sangat menggejala di Wina (Freud, ter 1991 4) Pengaruh Jean-Martin Charcot, neurolog Prancis, yang menunjukkan adanya faktor psikis vang menyebabkan histeria mendukung pula keraguan Freud pada kedokteran (Berry, 2001:15) Sejak itu Freud dan doktor Josef Breuer menyelidiki penyebab histeria Pasien yang menjadi subjek penyelidikannya adalah Anna O Selama penyelidikan, Freud melihat ketidakruntutan keterangan yang disampaikan oleh Anna O Seperti ada yang terbelah dari kepribadian Anna O Penyelidikan penyelidikan itu yang membawa Freud pada kesimpulan struktur psikis manusia id, ego, superego dan ketidaksadaran, prasadar, dan kesadaran.
Freud menjadikan prinsip ini untuk menjelaskan segala yang terjadi pada manusia, antara lain mimpi. Menurut Freud, mimpi adalah bentuk penyaluran dorongan yang tidak disadari. Dalam keadaan sadar orang sering merepresi keinginan keinginannya Karena tidak bisa tersalurkan pada keadaan sadar, maka keinginan itu mengaktualisasikan diri pada saat tidur, ketika kontrol ego lemah.
Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Terdapat peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari namun bisa kita akses (preconscious) dan ada yang sulit kita bawa ke alam tidak sadar (unconscious). Di alam tidak sadar inilah tinggal dua struktur mental yang ibarat gunting es dari kepribadian kita, yaitu:
1. Id, adalah berisi energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan semata.
2. Ego, adalah pengawas realitas Ciri-ciri lapisan ego antara lain sebagai berikut
a. Semuanya disadari
b. Hakikatnya bersifat logis, rasional
c. Bertugas menghadapi kenyataan dalam lingkungan sekitar dan kondisi lingkungan yang nyata
d. Membedakan antara pengalaman subjektif dan hakikat benda benda (objek) di dunia luar
3. Superego, adalah berisi kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari lingkungannya.
b. Menurut Teori Behavioral
Aliran ini memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning) Sikap yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive behaviour atau perilaku menyimpang Salah satu contoh adalah ketika Pavlov melakukan eksperimen terhadap seekor anjing Di depan anjing eksperimennya yang lapar Pavlov menyalakan lampu Anjing tersebut tidak mengeluarkan air liurnya. Kemudian sepotong daging ditaruh dihadapannya dan anjing tersebut terbit air liurnya Selanjutnya begitu terus setiap kali lampu dinyalakan maka daging disajikan Begitu hingga beberapa kali percobaan, sehingga setiap kali lampu dinyalakan maka anjing tersebut terbit air liurnya meski daging tidak disajikan. Dalam hal ini air liur anjing menjadi conditioned response dan cahaya lampu menjadi conditioned stimulus.
3. Pelaksanaan konseling Psikoanalisis dan Behavioral
a. Pelaksanaan konseling psikoanalisis
Pelaksanaan konseling psikoanalisis, diantaranya:
1. Menciptakan hubungan kerja dengan klien
2. Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi.
3. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya
4. Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri
5. Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor.
6. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi.
7. Menutup wawancara konseling
2. Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi.
3. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya
4. Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri
5. Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor.
6. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi.
7. Menutup wawancara konseling
b. Pelaksanaan konseling behavioral
pelaksanaan konseling behavioral, diantaranya:
1. Melakukan asesmen
2. Menentukan tujuan
3. Mengimplementasikan teknik
4. Evaluasi dan mengakhiri konseling
4. Analisis Perilaku Masyarakat Banten/Indonesia
Pada dasarnya setiap anak memiliki perilaku yang positif atau
baik, namun terkadang banyak sekali hal-hal yang mempengaruhi
perilaku mereka menjadi negatif. Apalagi anak-anak sangat mudah
terpengaruh karena mereka selalu menerima dan meniru apa yang
mereka lihat, sedangkan mereka belum bisa membedakan tentang
perilaku baik maupun buruk. Berikut bentuk-bentuk perilaku negatif
anak:
1. Suka berkelahi, bersikap kasar seperti memukul dan
mendorong, yang sering dilakukannya kepada teman-temannya.
2. Sering berkata
kasar terhadap teman-temannya sehingga sering menimbulkan
perkelahian
3. Mengamuk dan menangis secara berlebihan apabila keinginannya
tidak segera dipenuhi, disertai dengan memukul orang tuanya atau
orang yang berada disekitarnya
4. Berkata kasar
kepada kedua orang tuanya seperti memanggil mereka dengan
sebutan nama
5. Jail terhadap
teman-temannya seperti mengambil barang-barang milik temannya, menyembunyikannya bahkan merusaknya
6. Emosional yang tinggi, suka marah-marah tidak jelas baik kepada
orang tua maupun kepada orang lain, sering ngambek dan berkata
kasar kepada saudara-saudaranya
7. Berperilaku kasar seperti memukul, mendorong dan meludahi, hal
itu dilakukan baik kepada orang tua, saudara maupun teman
Referensi
Marniati,
2021, Komunikasi Kesehatan Berbasis Terapeutik, (Depok:
Rajawali Pers).
Nadofah,
2017, Layanan Behavioral untuk Meningkatka Kepedulian Orang Tua dalam Mengatasi
Perilaku Negatif Anak (Studi Kasus di Kp. Kubang Gede, Desa Mangkunegara, Kec.
Bojonegara, Kab. Serang), Skripsi. Tidak diterbitkan, Fakultas Ushuluddin, Dakwah
dan Adab, Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten:
Banten.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar