Selasa, 07 Maret 2023

Landasan Psikologis dalam Konseling

 


Landasan psikologi erat kaitannya dengan tingkah laku manusia, dan bagaimana peran kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam memunculkan keberagaman perilaku manusia, sehingga proses perkembangan manusia bersifat unik dan berbeda dari individu lainnya. Sutirna (2013) dalam Daulay (2019) mengungkapkan untuk kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor maupun guru BK adalah:

1. Motif dan Motivasi 


Motif dan motivasi berkaitan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku, baik motif primer maupun motif sekunder. Motif primer adalah motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir, seperti rasa lapar, bernafas, dan sejenisnya. Sedangkan motif sekunder adalah motif yang terbentuk dari hasil belajar seperti rekreasi, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu, dan sejenisnya. Selanjutnya motif-motif tersebut diaktifkan dan digerakkan baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik), menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. Oleh karena itu, pelaksana layanan bimbingan dan konseling diwajibkan dapat memahami motif dan motivasi seseorang.

2. Kepribadian dan Pengaruh pembawaan dasar dan lingkungan


Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti struktur otot, warna kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri kepribadian tertentu. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan. Untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Schopenhaver dengan aliran Nativismenya mengatakan bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan atau hereditas. Kemudian John Locke dengan aliran Empirismenya mengatakan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan (dalam hal ini diperlukan pendidikan). Timbullah aliran Konvergensi yang dipelopori oleh William Stern yang menyatakan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor bawaan dan lingkungan. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Misalnya saja dalam hal kecerdasan, ada yang di atas rata-rata (jenius), rata-rata atau bahkan di bawah rata-rata (debil, imbisil atau idiot). Demikian pula dengan lingkungan, ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan saran dan prasarana yang memadai sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Namun, adapula individu yang dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan saran dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik dan menjadi tersia-siakan. Pembawaan dan lingkungan akan sangat mempengaruhi dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, baik itu dilaksanakan oleh guru BK dan guru mata pelajaran di saat proses belajar mengajar.

3. Perkembangan Individu 


Perkembangan individu berkaitan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang berlangsung sejak masa konsepsi (prenatal) hingga akhir hayatnya, tidak ada yang sama satu dengan lainnya. Perkembangan tersebut meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial. Dalam menjalani tugas-tugasnya, seorang guru BK harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya. Guru BK juga harus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan, serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. Dengan kata lain, layanan pemberian bimbingan dan konseling setiap peserta didik berbeda-beda. 

4. Belajar dan Penguatan


Belajar merupakan salah satu konsep psikologi yang sangat mendasar. Manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Dengan belajar, manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Penguasaan yang baru itu adalah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itu merupakan tandatanda perkembangan, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor/keterampilan. Agar terjadi proses belajar diperlukan prasyarat belajar, baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan ataupun hasil belajar sebelumnya.

5. Kepribadian 


Kepribadian (personality) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain, integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendirian, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang, segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain. Kepribadian yang sudah matang akhirnya menjadi karakteristik kepribadian (trait), yaitu dapat bersumber dari bakat, kemampuan, sifat yang secara konsisten diperagakan oleh seseorang, termasuk pola perilaku, sifat fisik, dan ciri kepribadian (Sjarkawi, 2009). Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir.
Abin Syamsudin (dalam Daulay, 2019) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, mencakup: 
1. Karakter: yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsisten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. 
2. Temperamen: yaitu disposisi reaktif seseorang, atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan 
3. Sikap: sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif, atau ambivalen. 
4. Stabilitas emosi: yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan, seperti mudah tidaknya tersinggung, sedih atau putus asa.
5. Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan, seperti mau menerima risiko secara wajar, cuci tangan, atau menghindar dari risiko yang dihadapi. 
6. Sosiabilitas: yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal, seperti sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.

Referensi

Daulay, Nurussakinah, Urgensi Landasan Psikologi dalam Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Era Globalisasi, Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling, 9 (1), 2019. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Teknik dan Pelaksanaan Konseling Individual

  1. Penggunaan Teknik Umum dan Khusus Konseling Individual  a. Teknik Umum Konseling Individual       Teknik umum merupakan teknik konselin...