Landasan psikologi erat kaitannya dengan tingkah laku manusia, dan
bagaimana peran kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam memunculkan
keberagaman perilaku manusia, sehingga proses perkembangan manusia bersifat
unik dan berbeda dari individu lainnya. Sutirna (2013) dalam Daulay (2019) mengungkapkan untuk
kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu
dikuasai oleh konselor maupun guru BK adalah:
1. Motif dan Motivasi
Motif dan motivasi berkaitan dengan dorongan yang
menggerakkan seseorang berperilaku, baik motif primer maupun motif
sekunder. Motif primer adalah motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang
dimiliki oleh individu semenjak dia lahir, seperti rasa lapar, bernafas, dan
sejenisnya. Sedangkan motif sekunder adalah motif yang terbentuk dari hasil
belajar seperti rekreasi, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu,
dan sejenisnya. Selanjutnya motif-motif tersebut diaktifkan dan digerakkan
baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu
(motivasi ekstrinsik), menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas
tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. Oleh karena itu, pelaksana layanan
bimbingan dan konseling diwajibkan dapat memahami motif dan motivasi
seseorang.
2. Kepribadian dan Pengaruh pembawaan dasar dan lingkungan
Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan
faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu.
Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil
dari keturunan yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti struktur otot, warna
kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri kepribadian tertentu. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan. Untuk
mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana
individu itu berada. Schopenhaver dengan aliran Nativismenya mengatakan
bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan atau hereditas.
Kemudian John Locke dengan aliran Empirismenya mengatakan bahwa
perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan (dalam hal ini
diperlukan pendidikan). Timbullah aliran Konvergensi yang dipelopori oleh
William Stern yang menyatakan bahwa perkembangan manusia ditentukan
oleh faktor bawaan dan lingkungan. Pembawaan dan lingkungan setiap
individu akan berbeda-beda. Ada individu yang memiliki pembawaan yang
tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Misalnya saja dalam hal
kecerdasan, ada yang di atas rata-rata (jenius), rata-rata atau bahkan di bawah
rata-rata (debil, imbisil atau idiot). Demikian pula dengan lingkungan, ada
individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan saran dan
prasarana yang memadai sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya
dapat berkembang secara optimal. Namun, adapula individu yang dan berada
dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan saran dan prasarana yang
serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat
berkembang dengan baik dan menjadi tersia-siakan. Pembawaan dan
lingkungan akan sangat mempengaruhi dalam pelaksanaan layanan bimbingan
dan konseling, baik itu dilaksanakan oleh guru BK dan guru mata pelajaran di
saat proses belajar mengajar.
3. Perkembangan Individu
Perkembangan individu berkaitan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang berlangsung sejak masa konsepsi (prenatal) hingga akhir hayatnya, tidak ada yang sama satu dengan lainnya. Perkembangan tersebut meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial. Dalam menjalani tugas-tugasnya, seorang guru BK harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya. Guru BK juga harus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan, serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. Dengan kata lain, layanan pemberian bimbingan dan konseling setiap peserta didik berbeda-beda.
4. Belajar dan Penguatan
Belajar merupakan salah satu konsep psikologi yang sangat mendasar.
Manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat
mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Dengan belajar, manusia
mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Inti
perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan
memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Penguasaan yang baru itu
adalah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itu merupakan tandatanda perkembangan, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun
psikomotor/keterampilan. Agar terjadi proses belajar diperlukan prasyarat
belajar, baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan
ataupun hasil belajar sebelumnya.
5. Kepribadian
Kepribadian (personality) adalah sifat dan tingkah laku khas
seseorang yang membedakannya dengan orang lain, integrasi karakteristik dari
struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendirian, kemampuan dan potensi
yang dimiliki seseorang, segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana
diketahui oleh orang lain. Kepribadian yang sudah matang akhirnya menjadi
karakteristik kepribadian (trait), yaitu dapat bersumber dari bakat, kemampuan,
sifat yang secara konsisten diperagakan oleh seseorang, termasuk pola
perilaku, sifat fisik, dan ciri kepribadian (Sjarkawi, 2009). Kepribadian adalah
ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang
bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya
keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir.
Abin Syamsudin (dalam Daulay, 2019) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, mencakup:
1. Karakter: yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsisten
tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat.
2. Temperamen: yaitu disposisi reaktif seseorang, atau cepat lambatnya mereaksi
rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan
3. Sikap: sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif, atau ambivalen.
4. Stabilitas emosi: yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan
dari lingkungan, seperti mudah tidaknya tersinggung, sedih atau putus asa.
5. Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari
tindakan atau perbuatan yang dilakukan, seperti mau menerima risiko secara
wajar, cuci tangan, atau menghindar dari risiko yang dihadapi.
6. Sosiabilitas: yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan
interpersonal, seperti sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan
berkomunikasi dengan orang lain.
Referensi
Daulay,
Nurussakinah, Urgensi Landasan Psikologi dalam Pelaksanaan Bimbingan dan
Konseling di Era Globalisasi, Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling, 9 (1), 2019.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar