Senin, 29 Mei 2023

Teknik dan Pelaksanaan Konseling Individual

 


1. Penggunaan Teknik Umum dan Khusus Konseling Individual 


a. Teknik Umum Konseling Individual 


    Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. ada beberapa teknik umum dalam layanan konseling individual:
a) Perilaku attending 
b) Empati 
c) Refleksi 
d) Eksplorasi 
e) Menangkap pesan utama (Parapharasing
f) Pertanyaan terbuka (Open question)
g) Pertanyaan tertutup (Closed question
h) Dorongan minimal 
i) Interpretasi 
j) Mengarahkan (Directing)
k) Menyimpulkan sementara 
l) Memimpin 
m) Fokus 
n) Konfrontasi 
o) Menjernihkan 
p) Memudahkan 
q) Diam
r) Mengambil inisiatif 
s) Memberikan nasehat 
t) Pemberian informasi 
u) Merencanakan 
v) Menyimpulkan 

b. Teknik Khusus Konseling Individual


    Ada beberapa teknik khusus dalam layanan konseling individual:
a) Latihan asertif 
b) Desensitisasi sistematis 
c) Pengkondisian aversi 
d) Pembentukan perilaku model 
e) Permainan dialog 
f) Latihan saya bertanggungjawab 
g) Bermain proyeksi 
h) Teknik pembalikan 
i) Bertahan dengan perasaan 
j) Home work assigment
k) Adaptive
l) Bermain peran 
m) Imitasi

2. Rambu-Rambu Konseling 


Berikut rambu-rambu konseling:
a. Konseli adalah manusia yang unik 
b. Konselor tidak memihak 
c. Konselor tidak membicarakan orang ketiga
d. Konseli tidak pernah salah 

Senin, 15 Mei 2023

Konseling Individual

 


1. Pengertian Konseling Individual 


    Konseling individual yaitu layanan bimbingan dan konseling dimana konseli bisa mendapatkan layanan tatap muka secara langsung dan perseorangan dengan seorang konselor dalam rangka membahas bagaimana cara untuk pengentasan masalah pribadi yang sedang dialami oleh konseli.
    Konseling individual adalah proses pemberian bantuan yang di dapat lakukan melalui wawancara konseling oleh konselor kepada seorang konselor yang sedang mengalami sesuatu masalah dan proses ini bertujuan untuk teratasinya masalah yang dihadapi konseli.

2. Asas Konseling Individual 


Asas-asas dalam konseling individual, diantaranya: 
a. Asas kerahasiaan 
b. Asas kesukarelaan 
c. Asas keterbukaan 
d. Asas kenormatifan 
e. Asas keahlian 

3. Tahapan Konseling Individual 


    Ada tiga tahapan dalam konseling individual, diantaranya:
a. Tahap awal, yaitu tahap mendefinisikan masalah 
b. Tahap pertengahan, yaitu tahap kerja. Tugas fase ini adalah untuk memeriksa kembali definisi masalah dan mengembangkan suatu solusi-solusi alternatif. 
c. Tahap akhir, yaitu tahap keputusan untuk bertindak. Tahap ini berhubungan dengan: 
    1) Mengembangkan alternatif-alternatif untuk memecahkan masalah 
    2) Menguji solusi-solusi itu pada kenyataan, keinginan dan harapan konseli
    3) Memutuskan mana solusi yang paling tepat dengan konseli 
    4) Konseli menyusun rencana atas solusi yang telah dia ambil tadi

4. Teknik Umum Layanan Konseling Individual 


    Teknik umum merupakan teknik konseling yang lazim digunakan dalam tahapan-tahapan konseling dan merupakan teknik dasar konseling yang harus dikuasai oleh konselor. ada beberapa teknik umum dalam layanan konseling individual:
a. Perilaku attending 
b. Empati 
c. Refleksi 
d. Eksplorasi 
e. Menangkap pesan utama (Parapharasing
f. Pertanyaan terbuka (Open question)
g. Pertanyaan tertutup (Closed question
h. Dorongan minimal 
i. Interpretasi 
j. Mengarahkan (Directing)
k. Menyimpulkan sementara 
l. Memimpin 
m. Fokus 
n. Konfrontasi 
o. Menjernihkan 
p. Memudahkan 
q. Diam
r. Mengambil inisiatif 
s. Memberikan nasehat 
t. Pemberian informasi 
u. Merencanakan 
v. Menyimpulkan 

5. Teknik Khusus Layanan Konseling Individual 


    Ada beberapa teknik khusus dalam layanan konseling individual:
a. Latihan asertif 
b. Desensitisasi sistematis 
c. Pengkondisian aversi 
d. Pembentukan perilaku model 
e. Permainan dialog 
f. Latihan saya bertanggungjawab 
g. Bermain proyeksi 
h. Teknik pembalikan 
i. Bertahan dengan perasaan 
j. Home work assigment
k. Adaptive
l. Bermain peran 
m. Imitasi

Referensi

Istati, Mufida. 2021. Konseling Individual: Sebuah Pengantar Keterampilan Dasar Konseling bagi Konselor Pendidikan. NB: Guepedia.
Larasati, Adjeng Aprinna. Konseling Individu dengan Teknik Cognitive Restructuring untuk Mengatasi Inferiority Feelings pada Mahasiswa Psikologi UIN Sunan Ampel Surabaya. Skripsi. Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. 2021.
Tania, Aditya Lupi. 2021. Usaha Pemberian Layanan yang Optimal Guru BK pada Masa Pandemi Covid 19. Yogyakarta: UAD Press. 

Senin, 08 Mei 2023

Pelayanan Bimbingan Kelompok (BKp) dan Konseling Kelompok (KKp)


1. Pengertian Bimbingan Kelompok (BKp) dan Konseling Kelompok (KKp)


a. Pengertian Bimbingan Kelompok (BKp)


    Bimbingan kelompok merupakan salah satu bantuan dalam bimbingan dan konseling yang dilaksanakan dengan cara memanfaatkan dinamika kelompok. Tohirin (2007:170) menyebutkan bimbingan kelompok adalah suatu cara memberikan bantuan kepada individu (siswa) melalui kegiatan kelompok. Dalam bimbingan kelompok merupakan sarana untuk menunjang perkembangan optimal masing-masing siswa, yang diharapkan dapat mengambil manfaat dari pengalaman pendidikan ini bagi dirinya sendiri (dalam Winkel & Sri Hastuti, 2007:565).
    Bimbingan kelompok menghendaki siswa melakukan komunikasi timbal balik dengan teman-temannya, melakukan hubungan interpersonal satu sama lain dan bergaul melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi peningkatan pembinaan pribadi masing-masing. Dalam proses bimbingan kelompok ini pembimbing hendaknya mengarahkan minat dan perhatian siswa tentang hidup kebersamaan dan saling tolong menolong dalam memecahkan permasalahan bersama yang menyangkut kepentingan mereka bersama.

b. Pengertian Konseling Kelompok (KKp)


    Gazda menjelaskan pengertian konseling kelompok adalah suatu proses interpersonal yang dinamis yang memusatkan pada usaha dalam berfikir dan bertingkah tingkah laku, serta melibatkan pada fungsi-fungsi terapi yang dimungkinkan, serta berorientasi pada kenyataan-kenyataan, membersihkan jiwa, saling percaya mempercayai, pemeliharaan, pengertian, penerimaan dan bantuan.
    Menurut Gibson dan Mitchell konseling kelompok berfokus pada usaha membantu klien dalam melakukan perubahan dengan menaruh perhatian pada perkembangan dan penyesuaian sehari-hari, misalnya modifikasi tingkah laku, pengembangan keterampilan hubungan personal, nilai, sikap, atau membuat keputusan karier.

2. Tujuan dan Manfaat Bimbingan Kelompok (BKp) dan Konseling Kelompok (KKp)


a. Tujuan dan Manfaat Bimbingan Kelompok (BKp)


    Tujuan bimbingan kelompok merupakan orientasi dasar dari pelaksanaan bim- bingan kelompok. Wibowo (2005:18) dalam Kamaruzzaman (2016:68) mengungkapkan tujuan dari pelaksanaan bimbingan kelompok adalah pengembangan pribadi, pembahasan topik-topik atau masalah-masalah umum secara luas dan mendalam yang bermanfaat bagi anggota kelompok sehingga terhindar dari permasalahan yang berkaitan dengan topik masalah yang dibahas.

    Manfaat bimbingan kelompok manurut Dewa Ketut Sukardi (2008: 67) yaitu: 
1. Diberikan kesempatan yang luas untuk berpendapat dan membicarakan berbagai hal yang terjadi di sekitarnya. 
2. Memiliki pemahaman yang obyektif, tepat, dan cukup luas tentang berbagai hal yang mereka bicarakan. 
3. Menimbulkan sikap yang positif terhadap keadaan diri dan lingkungan mereka yang berhubungan dengan hal-hal yang mereka bicarakan dalam kelompok. 
4. Menyusun program-program kegiatan untuk mewujudkan penolakan terhadap yang buruk dan dukungan terhadap yang baik.
5. Melaksanakan kegiatan-kegiatan nyata dan langsung untuk membuahkan hasil sebagaimana yang mereka programkan semula. 

b. Tujuan dan Manfaat Koseling Kelompok (KKp)


    Menurut Prayitno (2004:13) dalam Supraptini (2022:27) tujuan umum konseling kelompok adalah mengembangkan kepribadian siswa untuk mengembangkan kemampuan sosial, komunikasi, kepercayaan diri, kepribadian, dan mampu memecahkan masalah yang berlandaskan ilmu dan agama.

Manfaat konseling kelompok yaitu melalui interaksi dengan anggota-anggota kelompok, mereka akan mengembangkan berbagai keterampilan yang pada intinya meningkatkan kepercayaan diri (self confidence) dan kepercayaan terhadap orang lain. Dalam suasana kelompok mereka merasa lebih mudah membicarakan persoalan-persoalan yang mereka hadapi daripada ketika mereka mengikuti sesi konseling individual. Dalam suasana kelompok mereka juga lebih rela menerima sumbangan pikiran dari seorang rekan anggota atau dari konselor yang memimpin kelompok itu dari pada bila mereka berbicara dengan seorang konselor dalam konseling individual. Dalam konseling kelompok konseli juga dapat berlatih untuk dapat menerima diri sendiri dan orang lain dengan apa adanya serta meningkatkan kepercayaan diri (self confidence) dan kepercayaan pada orang lain serta meningkatkan pikirannya.

3. Asas Bimbingan Kelompok (BKp) dan Konseling Kelompok (KKp) 


a. Asas Bimbingan Kelompok (BKp)


    Menurut Prayitno (1995), asas-asas bimbingan kelompok adalah: 
1) Asas kerahasiaan, Para anggota harus menyimpan merahasiakan informasi apa yang dibahas dalam kelompok, terutama hal-hal yang tidak layak diketahui orang lain. 
2) Asas keterbukaan, Para anggota bebas dan terbuka mengemukakan pendapat, ide, saran, tentang apa saja yang yang dirasakan dan dipikirkannya tanpa adanya rasa malu dan ragu-ragu.
3) Asas kesukarelaan, Semua anggota dapat menampilkan diri secara spontan tanpa malu atau dipaksa oleh teman lain atu pemimpin kelompok.
4) Asas kenormatifan, Semua yang dibicarakan dalam kelompok tidak boleh bertentangan dengan norma-norma dan kebiasaan yang berlaku. 
    keeempat asas tersebut harus ada dalam proses bimbingan kelompok agar dalam proses bimbingan kelompok dapat berjalan dengan baik dan maksimal serta dapat mencapai dinamika kelompok yang diinginkan.

b. Asas Konseling Kelompok (KKp)


    Dalam kegiatan konseling kelompok terdapat sejumlah aturan ataupun asas-asas yang harus diperhatikan oleh para anggota, asas-asas tersebut yaitu: 
1) Asas kerahasiaan
    Asas yang memegang kerahasiaan, karena masalah yang dibahas dalam konseling kelompok bersifat pribadi, maka setiap anggota kelompok diharapkan bersedia menjaga semua (pembicaraan ataupun tindakan) yang ada dalam kegiatan konseling kelompok, dan tidak layak diketahui orang lain selain orang-orang yang mengikuti kegiatan konseling kelompok.
2) Asas Kesukarelaan 
    Kehadiran, pendapat, usulan, ataupun tanggapan dari anggota kelompok harus bersifat sukarela, tanpa paksaan.
3) Asas keterbukaan dari anggota kelompok sangat diperlukan karena tanpa keterbukaan maka akan terdapat keragu- raguan atau kekhawatiran dari anggota.
4) Asas kegiatan
    Asas yang berorientasi pada pelaksanaan kegiatan konseling. Menciptakan suasana yang kondusif dalam dimaksud sangat menyelenggarakan kegiatan yang diperlukan, dalam penyelesaian masalah.
5) Asas kemandirian
    Asas yang mengarahkan pada peserta didik (klien) sebagai sasaran layanan/kegiatan bimbingan dan konseling diharapkan menjadi pribadi yang mandiri, dengan cari-ciri mengenal diri sendiri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan, mengarahkan, serta mewujudkan diri sendiri.
6) Asas kekinian
    Masalah yang dibahas dalam kegiatan konseling kelompok harus bersifat sekarang. Maksudnya, masalah yang dibahas adalah masalah yang saat ini sedang dialami yang mendesak, yang mengganggu keefektifan kehidupan sehari-hari, yang membutuhkan penyelesaian segera, bukan masalah yang lampau.
7) Asas kedinamisan
    Asas Pelayanan dalam konseling terhadap sasaran layanan (peserta didik/klien) bersifat dinamis, selalu bergerak maju, tidak monoton dan terus berkembang dan berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan perkembangan dari waktu ke waktu.
8) Asas keterpaduan
    Asas dalam pelayanan dan kegiatan bimbingan dan konseling adanya keharmonisan dan terpadukan. Dalam hal ini kerja sama dan koordinasi dengan berbagai pihak yang terkait dengan bimbingan dan konseling menjadi hal penting dalam pelaksanaannya.
9) Asas keharmonisan/kenormatifan 
    Asas ini menghendaki agar segenap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling didasarkan pada norma- norma, baik norma agama, hukum, peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Layanan/kegiatan bimbingan konseling diharapkan dapat meningkatkan kemampuan peserta didik (klien) dalam memahami, menghayati dan mengamalkan norma-norma tersebut.
10) Asas keahlian
    Yaitu asas yang menghendaki agar layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling diselenggarakan atas dasar-dasar kaidah profesional. Dalam hal ini pelaksana layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling adalah tenaga yang benar-benar ahli dalam bimbingan dan konseling. Profesionalitas guru pembimbing (konselor) harus terwujud baik dalam menyelenggarakan jensi-jenis layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling dan dalam penegakan kode etik bimbingan dan konseling.
11) Asas alih tangan kasus
    Asas alih tangan kasus yaitu asas yang menghendaki agar pihak-pihak yang tidak mampu menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling secara tepat dan tuntas atas suatu permasalahan peserta didik (klien) dapat mengalih tangankan kepihak yang lebih ahli. Guru pembimbing (konselor) dapat menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain. Demikian pula sebaliknya guru pembimbing (konselor) dapat mengalih tangankan kasus kepada pihak yang lebih kompeten baik yang berada di dalam lembaga sekolah maupun luar sekolah. 
12) Asas tutwurihandayani
    Asas ini menunjukkan pada suasana umum yang dalam tercipta rangka hubungan keseluruhan antara pembimbing dan yang dibimbing di lingkungan sekolah. Pelaksanaan kegiatan dilengkapi dengan "Ingngarsa sung tulada, ing madya mangun karso".

4. Tahap Pelaksanaan Bimbingan Kelompok (BKp) dan Konseling Kelompok (KKp)


a. Tahap Pelaksanaan Bimbingan Kelompok (BKp)


    Tahap pelaksanaan bimbingan kelompok menurut Prayitno ada empat tahapan, yaitu:
1) Tahap pembentukan 
    Tahap ini merupakan tahap pengenalan, tahap pelibatan diri atau tahap memasukkan diri ke dalam kehidupan suatu kelompok. Pada tahap ini pada umumnya para anggota saling memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan tujuan ataupun harapan-harapan yang ingin dicapai baik oleh masing-masing, sebagian, maupun seluruh anggota.
2) Tahap peralihan 
    Tahap kedua merupakan "jembtan" antara tahap pertama dan ketiga.
3) Tahap kegiatan 
    Tahap ini merupakan inti dari kegiatan kelompok, maka aspek-aspek yang menjadi isi dan pengiringnya cukup banyak, dan masing-masing aspek tersebut perlu mendapat perhatian yang seksama dari pemimpin kelompok. 
4) Tahap pengakhiran 
    Pada tahap pengakhiran bimbinga kelompok, pokok perhatian utama bukanlah pada berapa kali kelompok itu harus bertemu, tetapi pada hasil yang telah dicapai oleh kelompok itu. 

b. Tahap Pelaksanaan Konseling Kelompok (KKp)


    Konseling kelompok pada umunya dilakukan empat tahap: 
1) Tahap pembentukan 
    Tahap pembentukan merupakan tahap pengenalan tahap pelibatan diri,tahap memasukan diri kedalam kehidupan suatu kelompok.pada tahap ini para anggota saling memperkenalkan diri dan mengungkapkan tujuan atau harapan-harapan yang ingin dicapai. 
2) Tahap Peralihan.
    Setelah tahap pembentukan kelompok dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu tahap peralihan dimana tahap ini merupakan pembangunan jembatan antar tahap pertama dengan tahap ketiga. 
3) Tahap Kegiatan
    Tahap ketiga dari konseling kelompok adalah tahap pelaksanaan kegiatan atau tahap kegiatan pencapaian tujuan,tahap ini merupakan tahap yang sebenarnya dari kelompok.namun kelangsungan kegiatan kelompok pada tahap ini amat tergantung dari keberhasilan dua tahap sebelumnya. 
4) Pengakhiran.
    Tahap keempat dari konseling kelompok adalah tahap penggkhiran atau tahap penilaian dan tindak lanjut. Pada tahap ini kegiatan konseling kelompok hendaknya dipusatkan pada pembahasan dan penjelajahan tentang apakah para konseli akan mampu menerapkan hal-hal yang telah mereka bahas dalam keonseling kelompok.

5. Pemanfaatan Hasil Need Assessment untuk Kegiatan BKp dan KKp




Referensi 

Kamaruzzaman. 2016. Bimbingan dan Konseling. Pontianak: Pustaka Rumah Aloy.
Nurdian, Myta Devi. "Konseling Kelompok untuk Meningkatkan Risiliensi pada Remaja Penyandang Cacat Fisik (Difable)". Jurnal 
Sucipto, Sigit Dwi, Harlina dan Rani Mega Putri. 2020. Pengembangan Model Bimbingan Kelompok Berbasis Nilai Karakter Tokoh Kesultanan Palembang Darusalam, Palembang: Bening Media Publishing. 
Supraptini. 2022. The Art of Self Regulated Learning and Self Reflection. Penerbit P4I.
Syukur, Yarmis, Deviyarni dan Triave Nuzila Zahri. 2019. Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Malang: CV IRDH. 


Selasa, 02 Mei 2023

Pelayanan Klasikal BK di Madrasah

 


1. Pengertian Pelayanan Klasikal BK 


    Layanan klasikal bimbingan konseling merupakan kegiatan bimbingan konseling yang melayani peserta didik dalam jumlah besar di dalam satu kelas (Kemdikbud, 2014). 
    Layanan format klasi- kal adalah salah satu bentuk/format layanan bimbingan dengan sasaran siswa yang terhimpun dalam satu kelas (satu rombongan belajar). 
    Menurut Supriyo (2010), layanan klasikal adalah layanan bimbingan atau gabungan beberapa kelas. Layanan klasika yang di- berikan bersifat preventif dengan tujuan agar tidak terjadi masalah atau menekan jumlah masalah pada siswa. Layanan klasikal ini juga merupakan upaya untuk menjaga agar keadaan yang sudah baik tetap terjaga.

2. Teknik Pelaksanaan Pelayanaan Klasikal BK 


    Bimbingan klasikal sebagai salah satu pendekatan bimbingan secara kelompok, maka metode atau teknik yang dapat digunakan juga sama dengan teknik-teknik dalam bimbingan kelompok. Gazda (dalam Romlah 2006) mengatakan bahwa dalam bimbingan kelompok,menggunakan media instruksional (pembelajaran) dengan menerapkan prinsip-prinsip dinamika kelompok. 
    Teknik-teknik yang dapat digunakan seperti teknik ekspositori, diskusi kelompok, bermain peran dalam bentuk sosiodrama, permainan simulasi, home-room dan lain-lain.
    Teknik bimbingan klasikal dapat digunakan untuk meningkatkan AQ siswa dengan ceramah menggunakan media bimbingan. Pihak yng terlibat juga dapat meningkatkan AQ siswa. topik permasalahan yang diberikan adalah topic yang berakitan dengan meningkatkan AQ siswa.

3. RPL (Rencana Pelayanan Layanan) Klasikal 


    Dalam melaksanakan layanan bimbingan klasikal materi yang akan disampaikan harus direncanakan dan dirancang secara sistematis yang dituangkan dalam bentuk RPL (rencana pelaksanaan layanan) yang memenuhi komponen minimal seperti: 
1. Materi layanan 
2. Tujuan layanan 
3. Kegiatan layanan 
4. Sumber, bahan dan alat 
5. Penilaian

4. Praktik Pelayanan Klasikal BK di Madrasah 


    Pelaksanaan layanan klasikal memiliki langkah-langkah dalam pelaksanaannya. Langkah-langkah tersebut diolah dalam suatu rancangan pelaksanaan layanan klasikal. Terdiri dari komponen identitas, waktu dan tempat, materi layanan, tujuan atau arah pengembangan, metode dan teknik, sarana, penilaian hasil layanan dan langkah kegiatan. Meskipun demikian, dalam proses pemberian layanan yang menentukan keberhasilan pelaksanaan layanan tidak hanya terletak pada guru bimbingan dan konseling sebagai pelaksana layanan tetapi juga tergantung kondisi siswa sebagai penerima layanan.

Referensi: 

Hadiwinarto. 2019. Evaluasi Bimbingan dan Konseling. Yogyakarta: UNY Press.

Puriani, Risma Anita. 2020. Konsep Adversity & Problem Solving Skill. Palembang: Bening Media Publishing.


Senin, 10 April 2023

Pra Pelayanan BK

 



1. Pengertian Need Assesment


    Need Assesment berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dari dua kata; need yang berarti kebutuhan, kebutuhan yang sesuai dengan masyarakat, baik dari sisi topik, narasumber maupun hal lainnya yang terkait dengan pelaksanaan pelatihan tersebut sehingga tidak terjadi lagi overlapping tema di acara tersebut. 
    Menurut Goodwin and Goodwin, assesment adalah proses penentuan suatu kondisi dengan menggunakan teknik seperti pengamatan, wawancara, angket, tes, atau skor. 
    jadi, need assesment adalah penilaian kebutuhan yang mengacu pada kondisi tertentu dengan menggunakan teknik pengamatan, wawancara dan angket.

2. Jenis dan Manfaat Instrument BK 


Jenis instrumen BK, diantaranya:

a. Instrumen tes 
Instrumen tes adalah teknik penilaian dengan butir-butir pertanyaan atau pernyataan yang dikerjakan oleh peserta didik untuk mengetahui kemampuan siswa. Instrumen tes digunakan untuk menguji pencapaian kompetensi kognitif siswa sebagai semacam instrumen yang telah banyak digunakan selama ini. 

b. Instrumen non tes
Instrumen non tes merupakan cara penilaian hasil belajar siswa yang dilakukan tanpa menguji siswa tetapi dengan melakukan pengamatan siswa secara sistematis. Instrumen non tes meliputi instrumen yang mengukur fungsi efektif dan psikomotorik selain instrumen yang mengevaluasi fungsi kognitif. 

3. Instrumen Tes dalam BK 


    Dalam Bimbingan dan Konseling terdapat beberapa instrumen tes yang digunakan untuk melakukan pengukuran dalam penyelenggaran program-program yang ada di Bimbingan dan Konseling, beberapa kategori dari instrumen tes tersebut ialah:

a. Tes kecerdasan/intelegensi 
Tes Kecerdasan atau tes intelegensi merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukuran kemampuan seorang individu dalam akademik, kemampuan dalam kecerdasan, kemampuan mental, serta mengukur tingkat Intelegensi seseorang atau yang biasa disebut dengan Tes IQ (Intelligenve Quotient).

b. Tes Bakat 
Tes bakat pada awalnya muncul untuk mengurangi kekurangan dari tes intelegensi dalam mengukur kemampuan umum seorang individu. Tes bakat digunakan untuk mengukur kemungkinan keberhasilan seseorang dalam bidang tertentu. 

c. Tes minat jabatan 
Tes Minat Jabatan pertama kali dikembangkan oleh para ahli psikologi dengan tujuan mendapatkan gambaran dari minat seseorang melalui seperangkat alat tes atau inventori. Tujuan utama dari pengembangan inventori minat ini sendiri adalah untuk membantu individu dalam menemukan minat jabatan dasar pada dirinya. Salah satu ahli psikologi yang mengembangkan inventori ini adalah Lee dan Thorpe.

d. Tes kepribadian 
Anastasi dan Urbina (1997) menyatakan bahwasannya tes kepribadian merupakan salah satu bentuk instrumen yang digunakan untuk mengukur karakteristik emosi, motivasi, hubungan antar pribadi dan sikap, serta suatu hal yang membedakan antara bakat dan keterampilan.

e. Tes kreativitas 
Kreativitas merupakan sebuah kemampuan dalam menciptakan atau menemukan sesuatu yang baru dan berbeda dari yang sudah pernah ada. Dalam kretivitas ada empat macam tahapan yang harus dijalani yaitu tahapan persiapan, tahapan inkubasi, tahapan pencerahan, dan tahapan pelaksanaan atau pembuktian. 

f. Tes prestasi belajar 
Tes prestasi belajar merupakan salah satu alat ukur hasil belajar yang dapat mencakup semua kawasan tujuan pendidikan, Benyamin S. Bloom (dalam Azwar, 2003) membagi kawasan tujuan pendidikan mejadi tiga bagian, yaitu kawasan kognitif, kawasan afektif, dan kawasan psikomotorik. 

4. Instrumen Non Tes dalam BK 


Instrumen non tes (kegiatan pendukung) yaitu berupa: 

a. Aplikasi instrumentasi seperti tes bakat dan minat selain itu instrumen non tes berupa angket.
b. Himpunan data yang bersifat rahasia.
c. Tampilan kepustakaan, agar para siswa memiliki wawasan lebih luas dalam pengembangan pribadinya, sosial, belajar maupun karier/jabatan.

Referensi: 

Putri, Rani Mega dan Sigit Dwi Sucipto. Buku ajar Assesmen Tes dalam Bimbingan dan Konseling. Bening Media Publishing. 

Sriyono, Heru. 2017. Bimbingan dan Konseling Belajar bagi Siswa di Sekolah. Depok: Rajawali Pers. 

Widia, Winata. "Need Assesment Peserta Program Pelatihan Pendidikan Anak Usia Dini Kecamatan Cileungsi". Jurnal Pendidikan Usia Dini. 10 (2), 2016. 

Senin, 03 April 2023

Teori Konseling (Ego dan Self)


1. Konsep Teori Ego dan Self 


a. Konsep Teori Ego 


    Ego adalah segi kepribadian yang dapat membedakan antara khayalan dan kenyataan serta mau menanggung ketegangan dalam batas tertentu. Berlawanan dengan Id yang bekerja berdasarkan prinsip kesenangan, Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas (reality principle) yang artinya dapat menunda pemuasan diri atau mencari bentuk pemuasan lain yang lebih sesuai dengan batasan lingkungan (fisik maupun sosial). Ego menjalankan proses sekunder, di mana menggunakan kemampuan berpikir secara rasional dalam mencari pemecahan masalah terbaik. 
    Menurut Perspektif Psikoanalisis Freud, Ego berperan penting dalam konteks timbulnya berbagai macam kecemasan yang melanda manusia. Hanya Ego yang dapat mendeteksi atau merasakan setiap jenis kecemasan, sedangkan Id, Superego, dan dunia eksternal masing-masing terlibat hanya di salah satu dari tiga jenis kecemasan.


b. Konsep Teori Self 


    Self care merupakan salah satu teori keperawatan yang dikembangkan oleh Dorothea E Orem. Pengertian self care menurut Orem adalah kegiatan yang dilakukan oleh pasien untuk mempertahankan kehidupan. kesehatan dan kesejahterannya sesuai keadaan, baik sehat maupun sakit.
    Orem mengembangkan teori yang saling berhubungan yang berfokus pada manusia dalam menyeimbangkan kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraannya dengan merawat diri mereka sendiri yaitu teori Self Care Deficit, Teori Self Care, dan Nursing System. 

2. Konsep Perilaku Manusia (Menurut Teori Ego dan Self)


    Berpikir mengenai dirinya sendiri adalah aktivitas manusia yang tidak dapat dihindari. Pada umumnya, secara harfiah orang akan berpusat pada dirinya sendiri. Sehingga self (diri) adalah pusat dari dunia sosial setiap orang. Sementara, seperti yang telah kita ketahui, faktor genetik memainkan sebuah peran terhadap identitas diri atau konsep diri. Yang sebagian besar didasari pada interaksi dengan orang lain yang dipelajari dimulai dengan anggota keluarga terdekat kemudian masuk ke interaksi dengan mereka di luar keluarga.

3. Pelaksanaan Konseling Ego dan Self 


a. Pelaksanaan Konseling Ego


    Pelaksanaan konseling ego dirumuskan oleh Hummel, yang dikutip oleh Hansen, dkk (1977) sebagai berikut: 
1. Pertama-tama membantu klien mengkaji perasaan-perasaan berkenaan dengan kehidupan juga feeling terhadap peranan-peranannya, feeling penampilannya dan hal-hal lain yang bersangkut paut dengan tugas-tugas kehidupannya.
2. Klien kita proyeksikan dirinya terhadap masa depan (bagaimana dirinya bersangkut paut dengan masa depan). Dengan keadaanya sekarang apa yang dapat dia capai di masa depan.
3. Selanjutnya konselor berusaha mendiskusikan dengan klien hambatan-hambatan yang dijumpainya untuk mencapai tujuan.
4. Kalau pendiskusian tentang hambatan hambatan itu sudah berlangsung cukup jauh, konselor melalui proses interpretasi dan refleksi, mengajak klien untuk mengkaji lagi diri sendiri dan lingkungannya.
5. Terakhir konselor membantu klien menumbuhkan seperangkat hasrat kemauan dan semangat yang lebih baik dan mantap dalam kaitannya dengan pelajaran.

b. Pelaksanaan Konseling Self 


    Pelaksanaan konseling self, diantaranya: 
1. Dalam proses konseling konselor harus berupaya agar klien bebas mengekspresikan perasaannya.
2. Klien merasa nyaman berada bersama konselor karena konselor tidak pernah merespon negative.
3. Klien didorong sebanyak mungkin menggunakan kata ganti saya.
4. Klien didorong untuk melihat pengalaman-pengalamannya dari sudut yang realistic.
5. Klien didorong untuk kembali menjadi dirinya sendiri.

4. Analisis Perilaku Masyarakat Banten/Indonesia 


    Analisis prilaku masyarakat terhadap teori egi, Schiffman dan Kanuk (2010) mengutip pendapat para peneliti yang menggunakan teori Freud dalam studi perilaku konsumen dengan mengatakan bahwa motivasi (human drive) manusia sebagian besar tidak disadari, sehingga konsumen seringkali tidak menyadari atau tidak tahu alasan sesungguhnya mereka membeli suatu produk. Karena itu, apa yang dibeli dan apa yang dikonsumsi oleh konsumen merupakan gambaran dari kepribadian konsumen tersebut. Pakaian, kendaraan, aksesoris yang konsumen pakai adalah memperlihatkan kepribadian dari konsumen tersebut.
    Analisis prilaku masyarakat terhadap teori self, menurut teori ini manusia mempunyai pandangan atau konsepsi atas dirinya sendiri, berupa penilaian terhadap dirinya sendiri. Dengan ini setiap individu berfungsi sebagai subjek dan objek persepsi. Menurut Mowen, konsep diri merupakan totalitas pikiran dan perasaan individu yang mereferensikan dirinya sebagai objek. Konsep diri, disebut pula sebagai citra diri atau persepsi tentang diri sangat berkaitan dengan kepribadian. Teori konsep diri memandang bahwa tiap individu memiliki suatu konsep tentang dirinya yang didasari oleh siapa dirinya (dirinya yang sebenarnya atau actual self) dan suatu konsep tentang memandang dirinya ingin seperti siapa (dirinya yang ideal atau ideal self).

Referensi


Megasari, Anis Laela. 2021. Discharge Planning Berbasis Android Terhadap Kesiapan Pulang, 

Saputro, Muhammad Angga. 2020. Pemahaman Perkembangan Teori Sastra, Jawa Tengah: Penerbit Lakeisha.



Senin, 13 Maret 2023

Teori Konseling (Psikoanalisis dan Behavioral)

 


1. Konsep Psikoanalisis dan Behavioral


a. Konsep Psikoanalisis

    Psikoanalisis merupakan suatu metode penyembuhan yang lebih bersifat psikologis dengan cara-cara fisik. Tokoh utama dan pendiri psikoanalisis ialah Sigmund Freud, sebagai orang pertama yang mengemukakan konsep ketidaksadaran dalam kepribadian. Konsep-konsep psikoanalisis banyak memberikan pengaruh terhadap perkembangan konseling. Tujuan konseling psikoanalisis adalah untuk membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar pada diri klien. Proses konseling dipusatkan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau ditata, didiskusikan, dianalisis, dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekonstruksi kepribadian. Konseling analitik menekankan dimensi efektif dalam membuat pemahaman ketidaksadaran. Tilikan dan pemahaman intelektual sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah mengasosiasikan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri.

b. Konsep Behavioral 

    Menurut Krumboltz dan Thoresen, konseling behavioral merupakan suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu. Penekanan istilah belajar dalam pengertian ini adalah atas pertimbangan bahwa konselor membantu orang (klien) belajar atau mengubah perilaku. Konselor berperan membantu dalam proses belajar dengan menciptakan kondisi yang sedemikian rupa sehingga klien dapat mengubah perilakunya serta memecahkan masalahnya.

2. Konsep perilaku manusia (Menurut Teori Psikoanalisis dan Behavioral)


a. Menurut Teori Psikoanalisis

    Menurut Teori Psikoanalisis struktur kejiwaan manusia dapat di bilang sangat unik yaitu terdin atas Id. Ego dan Super Ego Stuktur kejiwaan pada manusia tersebut oleh freud selanjutnya disebut kepribadian Teon Psikoanalisis bermula dari keraguan Freud terhadap kedokteran Pada saat itu kedokteran dipercaya bisa menyembuhkan semua penyakit, termasuk histeria yang sangat menggejala di Wina (Freud, ter 1991 4) Pengaruh Jean-Martin Charcot, neurolog Prancis, yang menunjukkan adanya faktor psikis vang menyebabkan histeria mendukung pula keraguan Freud pada kedokteran (Berry, 2001:15) Sejak itu Freud dan doktor Josef Breuer menyelidiki penyebab histeria Pasien yang menjadi subjek penyelidikannya adalah Anna O Selama penyelidikan, Freud melihat ketidakruntutan keterangan yang disampaikan oleh Anna O Seperti ada yang terbelah dari kepribadian Anna O Penyelidikan penyelidikan itu yang membawa Freud pada kesimpulan struktur psikis manusia id, ego, superego dan ketidaksadaran, prasadar, dan kesadaran.    
    Freud menjadikan prinsip ini untuk menjelaskan segala yang terjadi pada manusia, antara lain mimpi. Menurut Freud, mimpi adalah bentuk penyaluran dorongan yang tidak disadari. Dalam keadaan sadar orang sering merepresi keinginan keinginannya Karena tidak bisa tersalurkan pada keadaan sadar, maka keinginan itu mengaktualisasikan diri pada saat tidur, ketika kontrol ego lemah.
    Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Terdapat peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari namun bisa kita akses (preconscious) dan ada yang sulit kita bawa ke alam tidak sadar (unconscious). Di alam tidak sadar inilah tinggal dua struktur mental yang ibarat gunting es dari kepribadian kita, yaitu:
1. Id, adalah berisi energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan semata.
2. Ego, adalah pengawas realitas Ciri-ciri lapisan ego antara lain sebagai berikut
    a. Semuanya disadari
    b. Hakikatnya bersifat logis, rasional
    c. Bertugas menghadapi kenyataan dalam lingkungan sekitar dan kondisi lingkungan yang nyata
    d. Membedakan antara pengalaman subjektif dan hakikat benda benda (objek) di dunia luar
3. Superego, adalah berisi kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari lingkungannya.

b. Menurut Teori Behavioral

    Aliran ini memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning) Sikap yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive behaviour atau perilaku menyimpang Salah satu contoh adalah ketika Pavlov melakukan eksperimen terhadap seekor anjing Di depan anjing eksperimennya yang lapar Pavlov menyalakan lampu Anjing tersebut tidak mengeluarkan air liurnya. Kemudian sepotong daging ditaruh dihadapannya dan anjing tersebut terbit air liurnya Selanjutnya begitu terus setiap kali lampu dinyalakan maka daging disajikan Begitu hingga beberapa kali percobaan, sehingga setiap kali lampu dinyalakan maka anjing tersebut terbit air liurnya meski daging tidak disajikan. Dalam hal ini air liur anjing menjadi conditioned response dan cahaya lampu menjadi conditioned stimulus.

3. Pelaksanaan konseling Psikoanalisis dan Behavioral


a. Pelaksanaan konseling psikoanalisis 

Pelaksanaan konseling psikoanalisis, diantaranya: 
1. Menciptakan hubungan kerja dengan klien
2. Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi.
3. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya
4. Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri
5. Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor.
6. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi.
7. Menutup wawancara konseling

b. Pelaksanaan konseling behavioral

pelaksanaan konseling behavioral, diantaranya:
1. Melakukan asesmen
2. Menentukan tujuan 
3. Mengimplementasikan teknik 
4. Evaluasi dan mengakhiri konseling 

4. Analisis Perilaku Masyarakat Banten/Indonesia


    Pada dasarnya setiap anak memiliki perilaku yang positif atau baik, namun terkadang banyak sekali hal-hal yang mempengaruhi perilaku mereka menjadi negatif. Apalagi anak-anak sangat mudah terpengaruh karena mereka selalu menerima dan meniru apa yang mereka lihat, sedangkan mereka belum bisa membedakan tentang perilaku baik maupun buruk. Berikut bentuk-bentuk perilaku negatif anak:
1. Suka berkelahi, bersikap kasar seperti memukul dan mendorong, yang sering dilakukannya kepada teman-temannya.
2. Sering berkata kasar terhadap teman-temannya sehingga sering menimbulkan perkelahian
3. Mengamuk dan menangis secara berlebihan apabila keinginannya tidak segera dipenuhi, disertai dengan memukul orang tuanya atau orang yang berada disekitarnya
4. Berkata kasar kepada kedua orang tuanya seperti memanggil mereka dengan sebutan nama
5. Jail terhadap teman-temannya seperti mengambil barang-barang milik temannya, menyembunyikannya bahkan merusaknya
6. Emosional yang tinggi, suka marah-marah tidak jelas baik kepada orang tua maupun kepada orang lain, sering ngambek dan berkata kasar kepada saudara-saudaranya
7. Berperilaku kasar seperti memukul, mendorong dan meludahi, hal itu dilakukan baik kepada orang tua, saudara maupun teman

Referensi

Marniati, 2021, Komunikasi Kesehatan Berbasis Terapeutik, (Depok: Rajawali Pers).

Nadofah, 2017, Layanan Behavioral untuk Meningkatka Kepedulian Orang Tua dalam Mengatasi Perilaku Negatif Anak (Studi Kasus di Kp. Kubang Gede, Desa Mangkunegara, Kec. Bojonegara, Kab. Serang), Skripsi. Tidak diterbitkan, Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab, Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten: Banten. 


Teknik dan Pelaksanaan Konseling Individual

  1. Penggunaan Teknik Umum dan Khusus Konseling Individual  a. Teknik Umum Konseling Individual       Teknik umum merupakan teknik konselin...