Senin, 10 April 2023

Pra Pelayanan BK

 



1. Pengertian Need Assesment


    Need Assesment berasal dari bahasa Inggris yang terdiri dari dua kata; need yang berarti kebutuhan, kebutuhan yang sesuai dengan masyarakat, baik dari sisi topik, narasumber maupun hal lainnya yang terkait dengan pelaksanaan pelatihan tersebut sehingga tidak terjadi lagi overlapping tema di acara tersebut. 
    Menurut Goodwin and Goodwin, assesment adalah proses penentuan suatu kondisi dengan menggunakan teknik seperti pengamatan, wawancara, angket, tes, atau skor. 
    jadi, need assesment adalah penilaian kebutuhan yang mengacu pada kondisi tertentu dengan menggunakan teknik pengamatan, wawancara dan angket.

2. Jenis dan Manfaat Instrument BK 


Jenis instrumen BK, diantaranya:

a. Instrumen tes 
Instrumen tes adalah teknik penilaian dengan butir-butir pertanyaan atau pernyataan yang dikerjakan oleh peserta didik untuk mengetahui kemampuan siswa. Instrumen tes digunakan untuk menguji pencapaian kompetensi kognitif siswa sebagai semacam instrumen yang telah banyak digunakan selama ini. 

b. Instrumen non tes
Instrumen non tes merupakan cara penilaian hasil belajar siswa yang dilakukan tanpa menguji siswa tetapi dengan melakukan pengamatan siswa secara sistematis. Instrumen non tes meliputi instrumen yang mengukur fungsi efektif dan psikomotorik selain instrumen yang mengevaluasi fungsi kognitif. 

3. Instrumen Tes dalam BK 


    Dalam Bimbingan dan Konseling terdapat beberapa instrumen tes yang digunakan untuk melakukan pengukuran dalam penyelenggaran program-program yang ada di Bimbingan dan Konseling, beberapa kategori dari instrumen tes tersebut ialah:

a. Tes kecerdasan/intelegensi 
Tes Kecerdasan atau tes intelegensi merupakan suatu alat yang digunakan untuk mengukuran kemampuan seorang individu dalam akademik, kemampuan dalam kecerdasan, kemampuan mental, serta mengukur tingkat Intelegensi seseorang atau yang biasa disebut dengan Tes IQ (Intelligenve Quotient).

b. Tes Bakat 
Tes bakat pada awalnya muncul untuk mengurangi kekurangan dari tes intelegensi dalam mengukur kemampuan umum seorang individu. Tes bakat digunakan untuk mengukur kemungkinan keberhasilan seseorang dalam bidang tertentu. 

c. Tes minat jabatan 
Tes Minat Jabatan pertama kali dikembangkan oleh para ahli psikologi dengan tujuan mendapatkan gambaran dari minat seseorang melalui seperangkat alat tes atau inventori. Tujuan utama dari pengembangan inventori minat ini sendiri adalah untuk membantu individu dalam menemukan minat jabatan dasar pada dirinya. Salah satu ahli psikologi yang mengembangkan inventori ini adalah Lee dan Thorpe.

d. Tes kepribadian 
Anastasi dan Urbina (1997) menyatakan bahwasannya tes kepribadian merupakan salah satu bentuk instrumen yang digunakan untuk mengukur karakteristik emosi, motivasi, hubungan antar pribadi dan sikap, serta suatu hal yang membedakan antara bakat dan keterampilan.

e. Tes kreativitas 
Kreativitas merupakan sebuah kemampuan dalam menciptakan atau menemukan sesuatu yang baru dan berbeda dari yang sudah pernah ada. Dalam kretivitas ada empat macam tahapan yang harus dijalani yaitu tahapan persiapan, tahapan inkubasi, tahapan pencerahan, dan tahapan pelaksanaan atau pembuktian. 

f. Tes prestasi belajar 
Tes prestasi belajar merupakan salah satu alat ukur hasil belajar yang dapat mencakup semua kawasan tujuan pendidikan, Benyamin S. Bloom (dalam Azwar, 2003) membagi kawasan tujuan pendidikan mejadi tiga bagian, yaitu kawasan kognitif, kawasan afektif, dan kawasan psikomotorik. 

4. Instrumen Non Tes dalam BK 


Instrumen non tes (kegiatan pendukung) yaitu berupa: 

a. Aplikasi instrumentasi seperti tes bakat dan minat selain itu instrumen non tes berupa angket.
b. Himpunan data yang bersifat rahasia.
c. Tampilan kepustakaan, agar para siswa memiliki wawasan lebih luas dalam pengembangan pribadinya, sosial, belajar maupun karier/jabatan.

Referensi: 

Putri, Rani Mega dan Sigit Dwi Sucipto. Buku ajar Assesmen Tes dalam Bimbingan dan Konseling. Bening Media Publishing. 

Sriyono, Heru. 2017. Bimbingan dan Konseling Belajar bagi Siswa di Sekolah. Depok: Rajawali Pers. 

Widia, Winata. "Need Assesment Peserta Program Pelatihan Pendidikan Anak Usia Dini Kecamatan Cileungsi". Jurnal Pendidikan Usia Dini. 10 (2), 2016. 

Senin, 03 April 2023

Teori Konseling (Ego dan Self)


1. Konsep Teori Ego dan Self 


a. Konsep Teori Ego 


    Ego adalah segi kepribadian yang dapat membedakan antara khayalan dan kenyataan serta mau menanggung ketegangan dalam batas tertentu. Berlawanan dengan Id yang bekerja berdasarkan prinsip kesenangan, Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas (reality principle) yang artinya dapat menunda pemuasan diri atau mencari bentuk pemuasan lain yang lebih sesuai dengan batasan lingkungan (fisik maupun sosial). Ego menjalankan proses sekunder, di mana menggunakan kemampuan berpikir secara rasional dalam mencari pemecahan masalah terbaik. 
    Menurut Perspektif Psikoanalisis Freud, Ego berperan penting dalam konteks timbulnya berbagai macam kecemasan yang melanda manusia. Hanya Ego yang dapat mendeteksi atau merasakan setiap jenis kecemasan, sedangkan Id, Superego, dan dunia eksternal masing-masing terlibat hanya di salah satu dari tiga jenis kecemasan.


b. Konsep Teori Self 


    Self care merupakan salah satu teori keperawatan yang dikembangkan oleh Dorothea E Orem. Pengertian self care menurut Orem adalah kegiatan yang dilakukan oleh pasien untuk mempertahankan kehidupan. kesehatan dan kesejahterannya sesuai keadaan, baik sehat maupun sakit.
    Orem mengembangkan teori yang saling berhubungan yang berfokus pada manusia dalam menyeimbangkan kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraannya dengan merawat diri mereka sendiri yaitu teori Self Care Deficit, Teori Self Care, dan Nursing System. 

2. Konsep Perilaku Manusia (Menurut Teori Ego dan Self)


    Berpikir mengenai dirinya sendiri adalah aktivitas manusia yang tidak dapat dihindari. Pada umumnya, secara harfiah orang akan berpusat pada dirinya sendiri. Sehingga self (diri) adalah pusat dari dunia sosial setiap orang. Sementara, seperti yang telah kita ketahui, faktor genetik memainkan sebuah peran terhadap identitas diri atau konsep diri. Yang sebagian besar didasari pada interaksi dengan orang lain yang dipelajari dimulai dengan anggota keluarga terdekat kemudian masuk ke interaksi dengan mereka di luar keluarga.

3. Pelaksanaan Konseling Ego dan Self 


a. Pelaksanaan Konseling Ego


    Pelaksanaan konseling ego dirumuskan oleh Hummel, yang dikutip oleh Hansen, dkk (1977) sebagai berikut: 
1. Pertama-tama membantu klien mengkaji perasaan-perasaan berkenaan dengan kehidupan juga feeling terhadap peranan-peranannya, feeling penampilannya dan hal-hal lain yang bersangkut paut dengan tugas-tugas kehidupannya.
2. Klien kita proyeksikan dirinya terhadap masa depan (bagaimana dirinya bersangkut paut dengan masa depan). Dengan keadaanya sekarang apa yang dapat dia capai di masa depan.
3. Selanjutnya konselor berusaha mendiskusikan dengan klien hambatan-hambatan yang dijumpainya untuk mencapai tujuan.
4. Kalau pendiskusian tentang hambatan hambatan itu sudah berlangsung cukup jauh, konselor melalui proses interpretasi dan refleksi, mengajak klien untuk mengkaji lagi diri sendiri dan lingkungannya.
5. Terakhir konselor membantu klien menumbuhkan seperangkat hasrat kemauan dan semangat yang lebih baik dan mantap dalam kaitannya dengan pelajaran.

b. Pelaksanaan Konseling Self 


    Pelaksanaan konseling self, diantaranya: 
1. Dalam proses konseling konselor harus berupaya agar klien bebas mengekspresikan perasaannya.
2. Klien merasa nyaman berada bersama konselor karena konselor tidak pernah merespon negative.
3. Klien didorong sebanyak mungkin menggunakan kata ganti saya.
4. Klien didorong untuk melihat pengalaman-pengalamannya dari sudut yang realistic.
5. Klien didorong untuk kembali menjadi dirinya sendiri.

4. Analisis Perilaku Masyarakat Banten/Indonesia 


    Analisis prilaku masyarakat terhadap teori egi, Schiffman dan Kanuk (2010) mengutip pendapat para peneliti yang menggunakan teori Freud dalam studi perilaku konsumen dengan mengatakan bahwa motivasi (human drive) manusia sebagian besar tidak disadari, sehingga konsumen seringkali tidak menyadari atau tidak tahu alasan sesungguhnya mereka membeli suatu produk. Karena itu, apa yang dibeli dan apa yang dikonsumsi oleh konsumen merupakan gambaran dari kepribadian konsumen tersebut. Pakaian, kendaraan, aksesoris yang konsumen pakai adalah memperlihatkan kepribadian dari konsumen tersebut.
    Analisis prilaku masyarakat terhadap teori self, menurut teori ini manusia mempunyai pandangan atau konsepsi atas dirinya sendiri, berupa penilaian terhadap dirinya sendiri. Dengan ini setiap individu berfungsi sebagai subjek dan objek persepsi. Menurut Mowen, konsep diri merupakan totalitas pikiran dan perasaan individu yang mereferensikan dirinya sebagai objek. Konsep diri, disebut pula sebagai citra diri atau persepsi tentang diri sangat berkaitan dengan kepribadian. Teori konsep diri memandang bahwa tiap individu memiliki suatu konsep tentang dirinya yang didasari oleh siapa dirinya (dirinya yang sebenarnya atau actual self) dan suatu konsep tentang memandang dirinya ingin seperti siapa (dirinya yang ideal atau ideal self).

Referensi


Megasari, Anis Laela. 2021. Discharge Planning Berbasis Android Terhadap Kesiapan Pulang, 

Saputro, Muhammad Angga. 2020. Pemahaman Perkembangan Teori Sastra, Jawa Tengah: Penerbit Lakeisha.



Teknik dan Pelaksanaan Konseling Individual

  1. Penggunaan Teknik Umum dan Khusus Konseling Individual  a. Teknik Umum Konseling Individual       Teknik umum merupakan teknik konselin...