Senin, 13 Maret 2023

Teori Konseling (Psikoanalisis dan Behavioral)

 


1. Konsep Psikoanalisis dan Behavioral


a. Konsep Psikoanalisis

    Psikoanalisis merupakan suatu metode penyembuhan yang lebih bersifat psikologis dengan cara-cara fisik. Tokoh utama dan pendiri psikoanalisis ialah Sigmund Freud, sebagai orang pertama yang mengemukakan konsep ketidaksadaran dalam kepribadian. Konsep-konsep psikoanalisis banyak memberikan pengaruh terhadap perkembangan konseling. Tujuan konseling psikoanalisis adalah untuk membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar menjadi sadar pada diri klien. Proses konseling dipusatkan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau ditata, didiskusikan, dianalisis, dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekonstruksi kepribadian. Konseling analitik menekankan dimensi efektif dalam membuat pemahaman ketidaksadaran. Tilikan dan pemahaman intelektual sangat penting, tetapi yang lebih penting adalah mengasosiasikan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri.

b. Konsep Behavioral 

    Menurut Krumboltz dan Thoresen, konseling behavioral merupakan suatu proses membantu orang untuk belajar memecahkan masalah interpersonal, emosional, dan keputusan tertentu. Penekanan istilah belajar dalam pengertian ini adalah atas pertimbangan bahwa konselor membantu orang (klien) belajar atau mengubah perilaku. Konselor berperan membantu dalam proses belajar dengan menciptakan kondisi yang sedemikian rupa sehingga klien dapat mengubah perilakunya serta memecahkan masalahnya.

2. Konsep perilaku manusia (Menurut Teori Psikoanalisis dan Behavioral)


a. Menurut Teori Psikoanalisis

    Menurut Teori Psikoanalisis struktur kejiwaan manusia dapat di bilang sangat unik yaitu terdin atas Id. Ego dan Super Ego Stuktur kejiwaan pada manusia tersebut oleh freud selanjutnya disebut kepribadian Teon Psikoanalisis bermula dari keraguan Freud terhadap kedokteran Pada saat itu kedokteran dipercaya bisa menyembuhkan semua penyakit, termasuk histeria yang sangat menggejala di Wina (Freud, ter 1991 4) Pengaruh Jean-Martin Charcot, neurolog Prancis, yang menunjukkan adanya faktor psikis vang menyebabkan histeria mendukung pula keraguan Freud pada kedokteran (Berry, 2001:15) Sejak itu Freud dan doktor Josef Breuer menyelidiki penyebab histeria Pasien yang menjadi subjek penyelidikannya adalah Anna O Selama penyelidikan, Freud melihat ketidakruntutan keterangan yang disampaikan oleh Anna O Seperti ada yang terbelah dari kepribadian Anna O Penyelidikan penyelidikan itu yang membawa Freud pada kesimpulan struktur psikis manusia id, ego, superego dan ketidaksadaran, prasadar, dan kesadaran.    
    Freud menjadikan prinsip ini untuk menjelaskan segala yang terjadi pada manusia, antara lain mimpi. Menurut Freud, mimpi adalah bentuk penyaluran dorongan yang tidak disadari. Dalam keadaan sadar orang sering merepresi keinginan keinginannya Karena tidak bisa tersalurkan pada keadaan sadar, maka keinginan itu mengaktualisasikan diri pada saat tidur, ketika kontrol ego lemah.
    Dalam pandangan Freud, semua perilaku manusia baik yang nampak (gerakan otot) maupun yang tersembunyi (pikiran) adalah disebabkan oleh peristiwa mental sebelumnya. Terdapat peristiwa mental yang kita sadari dan tidak kita sadari namun bisa kita akses (preconscious) dan ada yang sulit kita bawa ke alam tidak sadar (unconscious). Di alam tidak sadar inilah tinggal dua struktur mental yang ibarat gunting es dari kepribadian kita, yaitu:
1. Id, adalah berisi energi psikis, yang hanya memikirkan kesenangan semata.
2. Ego, adalah pengawas realitas Ciri-ciri lapisan ego antara lain sebagai berikut
    a. Semuanya disadari
    b. Hakikatnya bersifat logis, rasional
    c. Bertugas menghadapi kenyataan dalam lingkungan sekitar dan kondisi lingkungan yang nyata
    d. Membedakan antara pengalaman subjektif dan hakikat benda benda (objek) di dunia luar
3. Superego, adalah berisi kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap individu dari lingkungannya.

b. Menurut Teori Behavioral

    Aliran ini memandang manusia sebagai mesin (homo mechanicus) yang dapat dikendalikan perilakunya melalui suatu pelaziman (conditioning) Sikap yang diinginkan dilatih terus-menerus sehingga menimbulkan maladaptive behaviour atau perilaku menyimpang Salah satu contoh adalah ketika Pavlov melakukan eksperimen terhadap seekor anjing Di depan anjing eksperimennya yang lapar Pavlov menyalakan lampu Anjing tersebut tidak mengeluarkan air liurnya. Kemudian sepotong daging ditaruh dihadapannya dan anjing tersebut terbit air liurnya Selanjutnya begitu terus setiap kali lampu dinyalakan maka daging disajikan Begitu hingga beberapa kali percobaan, sehingga setiap kali lampu dinyalakan maka anjing tersebut terbit air liurnya meski daging tidak disajikan. Dalam hal ini air liur anjing menjadi conditioned response dan cahaya lampu menjadi conditioned stimulus.

3. Pelaksanaan konseling Psikoanalisis dan Behavioral


a. Pelaksanaan konseling psikoanalisis 

Pelaksanaan konseling psikoanalisis, diantaranya: 
1. Menciptakan hubungan kerja dengan klien
2. Tahap krisis bagi klien yaitu kesukaran dalam mengemukakan masalahnya dan melakukan transferensi.
3. Tilikan terhadap masa lalu klien terutama pada masa kanak-kanaknya
4. Pengembangan reesitensi untuk pemahaman diri
5. Pengembangan hubungan transferensi klien dengan konselor.
6. Melanjutkan lagi hal-hal yang resistensi.
7. Menutup wawancara konseling

b. Pelaksanaan konseling behavioral

pelaksanaan konseling behavioral, diantaranya:
1. Melakukan asesmen
2. Menentukan tujuan 
3. Mengimplementasikan teknik 
4. Evaluasi dan mengakhiri konseling 

4. Analisis Perilaku Masyarakat Banten/Indonesia


    Pada dasarnya setiap anak memiliki perilaku yang positif atau baik, namun terkadang banyak sekali hal-hal yang mempengaruhi perilaku mereka menjadi negatif. Apalagi anak-anak sangat mudah terpengaruh karena mereka selalu menerima dan meniru apa yang mereka lihat, sedangkan mereka belum bisa membedakan tentang perilaku baik maupun buruk. Berikut bentuk-bentuk perilaku negatif anak:
1. Suka berkelahi, bersikap kasar seperti memukul dan mendorong, yang sering dilakukannya kepada teman-temannya.
2. Sering berkata kasar terhadap teman-temannya sehingga sering menimbulkan perkelahian
3. Mengamuk dan menangis secara berlebihan apabila keinginannya tidak segera dipenuhi, disertai dengan memukul orang tuanya atau orang yang berada disekitarnya
4. Berkata kasar kepada kedua orang tuanya seperti memanggil mereka dengan sebutan nama
5. Jail terhadap teman-temannya seperti mengambil barang-barang milik temannya, menyembunyikannya bahkan merusaknya
6. Emosional yang tinggi, suka marah-marah tidak jelas baik kepada orang tua maupun kepada orang lain, sering ngambek dan berkata kasar kepada saudara-saudaranya
7. Berperilaku kasar seperti memukul, mendorong dan meludahi, hal itu dilakukan baik kepada orang tua, saudara maupun teman

Referensi

Marniati, 2021, Komunikasi Kesehatan Berbasis Terapeutik, (Depok: Rajawali Pers).

Nadofah, 2017, Layanan Behavioral untuk Meningkatka Kepedulian Orang Tua dalam Mengatasi Perilaku Negatif Anak (Studi Kasus di Kp. Kubang Gede, Desa Mangkunegara, Kec. Bojonegara, Kab. Serang), Skripsi. Tidak diterbitkan, Fakultas Ushuluddin, Dakwah dan Adab, Institut Agama Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten: Banten. 


Selasa, 07 Maret 2023

Landasan Psikologis dalam Konseling

 


Landasan psikologi erat kaitannya dengan tingkah laku manusia, dan bagaimana peran kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam memunculkan keberagaman perilaku manusia, sehingga proses perkembangan manusia bersifat unik dan berbeda dari individu lainnya. Sutirna (2013) dalam Daulay (2019) mengungkapkan untuk kepentingan bimbingan dan konseling, beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor maupun guru BK adalah:

1. Motif dan Motivasi 


Motif dan motivasi berkaitan dengan dorongan yang menggerakkan seseorang berperilaku, baik motif primer maupun motif sekunder. Motif primer adalah motif yang didasari oleh kebutuhan asli yang dimiliki oleh individu semenjak dia lahir, seperti rasa lapar, bernafas, dan sejenisnya. Sedangkan motif sekunder adalah motif yang terbentuk dari hasil belajar seperti rekreasi, memperoleh pengetahuan atau keterampilan tertentu, dan sejenisnya. Selanjutnya motif-motif tersebut diaktifkan dan digerakkan baik dari dalam diri individu (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik), menjadi bentuk perilaku instrumental atau aktivitas tertentu yang mengarah pada suatu tujuan. Oleh karena itu, pelaksana layanan bimbingan dan konseling diwajibkan dapat memahami motif dan motivasi seseorang.

2. Kepribadian dan Pengaruh pembawaan dasar dan lingkungan


Pembawaan dan lingkungan berkenaan dengan faktor-faktor yang membentuk dan mempengaruhi perilaku individu. Pembawaan yaitu segala sesuatu yang dibawa sejak lahir dan merupakan hasil dari keturunan yang mencakup aspek psiko-fisik, seperti struktur otot, warna kulit, golongan darah, bakat, kecerdasan, atau ciri-ciri kepribadian tertentu. Pembawaan pada dasarnya bersifat potensial yang perlu dikembangkan. Untuk mengoptimalkan dan mewujudkannya bergantung pada lingkungan dimana individu itu berada. Schopenhaver dengan aliran Nativismenya mengatakan bahwa manusia sangat dipengaruhi oleh faktor bawaan atau hereditas. Kemudian John Locke dengan aliran Empirismenya mengatakan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor lingkungan (dalam hal ini diperlukan pendidikan). Timbullah aliran Konvergensi yang dipelopori oleh William Stern yang menyatakan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh faktor bawaan dan lingkungan. Pembawaan dan lingkungan setiap individu akan berbeda-beda. Ada individu yang memiliki pembawaan yang tinggi dan ada pula yang sedang atau bahkan rendah. Misalnya saja dalam hal kecerdasan, ada yang di atas rata-rata (jenius), rata-rata atau bahkan di bawah rata-rata (debil, imbisil atau idiot). Demikian pula dengan lingkungan, ada individu yang dibesarkan dalam lingkungan yang kondusif dengan saran dan prasarana yang memadai sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya dapat berkembang secara optimal. Namun, adapula individu yang dan berada dalam lingkungan yang kurang kondusif dengan saran dan prasarana yang serba terbatas sehingga segenap potensi bawaan yang dimilikinya tidak dapat berkembang dengan baik dan menjadi tersia-siakan. Pembawaan dan lingkungan akan sangat mempengaruhi dalam pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, baik itu dilaksanakan oleh guru BK dan guru mata pelajaran di saat proses belajar mengajar.

3. Perkembangan Individu 


Perkembangan individu berkaitan dengan proses tumbuh dan berkembangnya individu yang berlangsung sejak masa konsepsi (prenatal) hingga akhir hayatnya, tidak ada yang sama satu dengan lainnya. Perkembangan tersebut meliputi aspek fisik dan psikomotorik, bahasa dan kognitif/kecerdasan, moral dan sosial. Dalam menjalani tugas-tugasnya, seorang guru BK harus memahami berbagai aspek perkembangan individu yang dilayaninya. Guru BK juga harus dapat melihat arah perkembangan individu itu di masa depan, serta keterkaitannya dengan faktor pembawaan dan lingkungan. Dengan kata lain, layanan pemberian bimbingan dan konseling setiap peserta didik berbeda-beda. 

4. Belajar dan Penguatan


Belajar merupakan salah satu konsep psikologi yang sangat mendasar. Manusia belajar untuk hidup. Tanpa belajar, seseorang tidak akan dapat mempertahankan dan mengembangkan dirinya. Dengan belajar, manusia mampu berbudaya dan mengembangkan harkat kemanusiaannya. Inti perbuatan belajar adalah upaya untuk menguasai sesuatu yang baru dengan memanfaatkan yang sudah ada pada diri individu. Penguasaan yang baru itu adalah tujuan belajar dan pencapaian sesuatu yang baru itu merupakan tandatanda perkembangan, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor/keterampilan. Agar terjadi proses belajar diperlukan prasyarat belajar, baik berupa prasyarat psiko-fisik yang dihasilkan dari kematangan ataupun hasil belajar sebelumnya.

5. Kepribadian 


Kepribadian (personality) adalah sifat dan tingkah laku khas seseorang yang membedakannya dengan orang lain, integrasi karakteristik dari struktur-struktur, pola tingkah laku, minat, pendirian, kemampuan dan potensi yang dimiliki seseorang, segala sesuatu mengenai diri seseorang sebagaimana diketahui oleh orang lain. Kepribadian yang sudah matang akhirnya menjadi karakteristik kepribadian (trait), yaitu dapat bersumber dari bakat, kemampuan, sifat yang secara konsisten diperagakan oleh seseorang, termasuk pola perilaku, sifat fisik, dan ciri kepribadian (Sjarkawi, 2009). Kepribadian adalah ciri atau karakteristik atau gaya atau sifat khas dari diri seseorang yang bersumber dari bentukan-bentukan yang diterima dari lingkungan, misalnya keluarga pada masa kecil, dan juga bawaan seseorang sejak lahir.
Abin Syamsudin (dalam Daulay, 2019) mengemukakan tentang aspek-aspek kepribadian, mencakup: 
1. Karakter: yaitu konsekuen tidaknya dalam mematuhi etika perilaku, konsisten tidaknya dalam memegang pendirian atau pendapat. 
2. Temperamen: yaitu disposisi reaktif seseorang, atau cepat lambatnya mereaksi rangsangan-rangsangan yang datang dari lingkungan 
3. Sikap: sambutan terhadap objek yang bersifat positif, negatif, atau ambivalen. 
4. Stabilitas emosi: yaitu kadar kestabilan reaksi emosional terhadap rangsangan dari lingkungan, seperti mudah tidaknya tersinggung, sedih atau putus asa.
5. Responsibilitas (tanggung jawab), kesiapan untuk menerima resiko dari tindakan atau perbuatan yang dilakukan, seperti mau menerima risiko secara wajar, cuci tangan, atau menghindar dari risiko yang dihadapi. 
6. Sosiabilitas: yaitu disposisi pribadi yang berkaitan dengan hubungan interpersonal, seperti sifat pribadi yang terbuka atau tertutup dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.

Referensi

Daulay, Nurussakinah, Urgensi Landasan Psikologi dalam Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di Era Globalisasi, Al-Irsyad: Jurnal Pendidikan dan Konseling, 9 (1), 2019. 


Teknik dan Pelaksanaan Konseling Individual

  1. Penggunaan Teknik Umum dan Khusus Konseling Individual  a. Teknik Umum Konseling Individual       Teknik umum merupakan teknik konselin...